Etika bisnis

 

BAGIAN I

1.      Etika adalah sesuatu dimana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas standar moral dan penilaian. Sedangkan, etika bisnis dapat juga bisa diartikan sebagai suatu pengetahuan mengenai norma-norma dalam mengelola bisnis dan moralitas yang berlaku secara universal, ekonomi, dan sosial. Hal ini juga yang dijadikan standar atau pedoman bagi semua karyawan di dalam perusahaan untuk menjadikannya sebagai pedoman dalam bekerja. Etika dimulai ketika orang merenungkan unsur pendapat etis spontan kami. Kebutuhan untuk refleksi bahwa kita akan merasa, sebagian karena kita opini etis tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain.

2.      Deontologi adalah pendekatan etika yang berfokus pada kebenaran atau kesalahan tindakan itu sendiri, yang bertentangan dengan kebenaran atau kesalahan yang dihasilkan dari tindakan (konsekuensial) atau dengan karakter dan kebiasaan pemain (etika moral). Jadi, bagi seorang deontologis, apakah situasinya baik atau buruk tergantung pada apakah tindakan yang menyebabkannya benar atau salah.

Ada dua kesulitan yang diajukan terhadap teori deontologi, khususnya terhadap pandangan-pandangan Kant, Pertama, bagaimana jadinya apabila seseorang dihadapkan pada dua perintah atau kewajiban moral dalam situasi yang sama, tetapi keduanya tidak bisa dilaksanakan sekaligus, bahkan keduanya saling meniadakan. Untuk memecahkan kesulitan pertama ini, Kant memberi dua hukum moral sebagai perintah tak bersyarat yang sekaligus dapat menjawab persoalan tersebut diatas.

Hukum moral pertama, menurut Kant, berbunyi: bertindaklah hanya berdasarkan perintah yang kamu sendiri kehendaki akan menjadi sebuah hukum universal. Kedua, Kant juga mengajukan perintah tak bersyarat lainnya : bertindaklah sedemikian rupanya sehingga anda sealu memperlakukan manusia, entah dalam dirimu sendiri atau pada orang lain.
Persoalan kedua, sebagaimana dikatakn John Stuart Mill, para penganut etika deontologi sesungguhnya ytidak bisa mengelakkan pentingnya akibat dari suatu tindakan untuk menentukan apakah tindakan itu baik atau buruknya. Dalam perspektif etika Adam Smith, persoalan ini dapat dipecahkan secara lain. Menurut Adam Smith, suatu tindakan dapat dinilai baik dan buruk berdasar motif pelakunya serta akibat atau tujuan dari tindakan itu.

3.      Etika Teleologi mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau dicapai dengan tindakan itu, atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan itu. Dua aliran etika teleologi ialah egoisme etis dan utilitarianisme.

a)     Egoisme Etis

Inti pandangan egoisme adalah bahwa tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar pribadi dan memajukan dirinya sendiri. Seseorang tidak mempunyai kewajiban moral selain untuk menjalankan apa yang paling baik bagi kita sendiri. Jadi, menurut egoisme etis, seseorang tidak mempunyai kewajiban alami terhadap orang lain. Meski mementingkan diri sendiri, bukan berarti egoisme etis menafikan tindakan menolong.

b)     Utilitarianisme

Menurut teori ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja  satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan. Sebaliknya, yang jahat atau buruk adalah yang tak bermanfaat, tak berfaedah, dan merugikan. Karena itu, baik buruknya perilaku dan perbuatan ditetapkan dari segi berguna, berfaedah, dan menguntungkan atau tidak. Dari prinsip ini, tersusunlah teori tujuan perbuatan.

 

4.      Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian dari para petugasnya. Artinya pekerjaan yang disebut profesi itu  tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan secara khusus terlebih dahulu untuk melakukan pekerjaan. Sedangkan, hobi adalah kegemaran dalam kehidupan sehari-hari.

Ciri-cir profesi ialah :

1)     Profesi membutuhkan waktu pendidikan dan latihan yang khusus dan memadai, yaitu harus adanya keterampilan yang khusus dalam suatu bidang pekerjaan.

2)     Suatu pekerjaan khas dengan keahlian serta ketrampilan , yaitu biasa ahli dalam 1 bidang saja

3)     Menuntut kemampuan kinerja intelaktual , iyalah kemampuan yang dibutuhkan untuk dapat melakukan berbagai aktivitas seperti mental -berpikir, menalar, serta memecahkan masalah.

4)     Mempunyai konsekuen memikul tanggung jawab pribadi secara penuh.

5)     Kinerja lebih mengutamakan pelayanan dari pada imbalan ekonomi.

6)     Ada sangsi jika terdapat pelanggaran.

7)     Memiliki kebebasan untuk memberikan judgment.

8)     Ada pengakuan dari masyarakat

9)     Memiliki kode etik serta asosiasi profesional

10)  Mengatur diri
Organisasi profesi harus bisa mengatur organisasinya sendiri tanpa campur tangan pemerintah

 

5.      Argumen yang menentang mitos bisnis amoral. Berikut argument yang menentang ada nya mitos bisnis amoral antara lain :

        Bisnis tidak sama dengan judi atau permainan, yang dipertaruhkan dalam bisnis tidak hanya uang atau barang, tetapi juga harga diri, nama baik, dll.

        Bisnis tidak mempunyai aturan sendiri yang berbeda dengan aturan kehidupan sosial masyarakat.

        Harus dibedakan antara legalitas dan moralitas. Praktek bisnis tertentu yang dibenarkan secara legal belum tentu dibenarkan secara moral.

        Etika harus dibedakan dengan ilmu empiris. Dalam ilmu empiris, fakta yang berulang terus dan terjadi dimana-mana menjadi teori dan hukum ilmiah, dalam etika tidak demikian

Argumen yang mendukung mitos bisnis amoral antara lain :

        Bisnis sama dengan judi sebuah bentuk persaingan dan permainan yang mengutamakan kepentingan pribadi dan mengupayakan segala macam cara untuk mencapai kemenangan.

        Aturan yang dipakai dalam bisnis berbeda dengan aturan dalam kehidupan sosial.

        Orang bisnis yang mematuhi aturan moral akan berada dalam posisi yang tidak menguntungkan di tengah persaingan yang ketat.

 

6.      Etika bisnis dapat diartikan sebagai peraturan tidak tertulis sebagai landasan norma dan perilaku yang harus dipatuhi oleh seluruh lapisan dalam perusahaan. Dengan menjalankan etika bisnis yang baik, sebuah perusahaan bisa mendapat nilai dan kepercayaan lebih dari masyarakat, negara, dan bahkan kompetitornya. 

Selain itu, berbisnis dengan menggunakan etika akan menciptakan hubungan yang baik antara perusahaan dan karyawan, perusahaan dan konsumen, serta perusahaan dengan perusahaan lain. Hal ini memberikan kredibilitas yang baik bagi perusahaan. 

Jika etika diterapkan secara internal di seluruh lapisan perusahaan, karyawan dan pimpinan akan memiliki relasi yang baik, lalu suasana bekerja akan semakin kondusif dan suportif. Ini menjauhkan perusahaan dari praktik curang di dalam lingkungannya sendiri. 

 

7.      Prinsip-prinsip etika bisnis:

        Prinsip otonomi : sikap dan kemampuan manusia untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadarannya tentang apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan.

        Prinsip kejujuran : nilai yang paling mendasar dalam mendukung keberhasilan perusahaan.

        Prinsip tidak berniat jahat : prinsip kejujuran yang ketat akan mampu meredam niat jahat perusahaan itu.

        Prinsip keadilan : Perusahaan harus bersikap adil kepada pihak-pihak yang terkait dengan sistem bisnis.

        Prinsip hormat pada diri sendiri : Perlunya menjaga citra baik perusahaan tersebut melalui prinsip kejujuran, tidak berniat jahat dan prinsip keadilan.

Cara penerapannya :

1)     Memaksimalkan nilai Perusahaan dengan cara meningkatkan prinsip keterbukaan, akuntabilitas, dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan adil agar Perusahaan memiliki daya saing yang kuat, baik secara nasional maupun internasional.

2)     Mendorong pengelolaan Perusahaan secara profesional, transparan dan efisien, serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian.

3)     Mendorong agar manajemen Perusahaan dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakan dilandasi nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta kesadaran akan adanya tanggung jawab sosial Perusahaan terhadap stakeholders maupun kelestarian lingkungan di sekitar Perusahaan.

4)     Meningkatkan kontribusi Perusahaan dalam perekonomian nasional

5)     Meningkatkan nilai investasi dan kekayaan Perusahaan.

 

8.      Code of ethics adalah kode etik dan standar perilaku yang diartikan sebagai pola, aturan, tata cara, pedoman, dan etis dalam melakukan sesuatu pekerjaan.

 

9.      Konsep keadilan :

a)     Teori Keadilan Adam Smith

Alasan Adam Smith hanya menerima satu konsep atau teori keadilan adalah:

        Menurut Adam Smith yang disebut keadilan sesungguhnya hanya punya satu arti yaitu keadilan komutatif yang menyangkut kesetaraan, keseimbangan, keharmonisan hubungan antara satu orang atau pihak dengan orang atau pihak yang lain.

        Keadilan legal sesungguhnya sudah terkandung dalam keadilan komutatif, karena keadilan legal sesungguhnya hanya konsekuensi lebih lanjut dari prinsip keadilan komutatif yaitu bahwa demi menegakkan keadilan komutatif negara harus bersikap netral dan memperlakukan semua pihak secara sama tanpa terkecuali.

        Adam Smith menolak keadilan distributif sebagai salah satu jenis keadilan. Alasannya antara lain karena apa yang disebut keadilan selalu menyangkut hak semua orang tidak boleh dirugikan haknya atau secara positif setiap orang harus diperlakukan sesuai dengan haknya.

b)     Konsep keadilan menurut John Rawls

        Prinsip yang menyatakan bahwa setiap orang atau warga negara harus mendapatkan hak yang sama dari keseluruhan sistem sosial dalam mendapatkan kebebasan paling hakiki yang ditawarkan pada manusia.

        Prinsip kedua menyatakan bahwa ketimpangan sosial dan ekonomi diatur sedemikian rupa agar memberikan keuntungan terbesar bagi kalangan yang paling tidak beruntung dalam masyarakat.

c)     Persamaannya kedua konsep tersebut memiliki tujuan untuk memprioritaskan keadilan. Sedangkan perbedaannya adalah dimana konsep Adam Smith menolak distributif sebagai salah satu jenis keadilan.

 

 

BAGIAN II

1.      Kasus 1

Ø  Masalah etis pada kasus 1 ialah pembohongan public/konsumen. Menjual obat-obatan china dengan tidak disertakan indikator bahan-bahan kimia jamu tersebut dan  jamu tersebut mengandung zat kimia dosis tinggi yang sangat berbahaya. Kebanyakan masyarakat tertipu iklan jamu tersebut yang mengandung kata “cespleng”.

2.      Kasus 1

a)     Jelas sekali, pembakaran hutan secara sengaja merupakan tindakan melanggar hukum dengan atau tanpa alasan perbuatan tersebut jelas tindakan kriminal.

b)     Dengan cara melakukan pembakaran hutan dinilai lebih cepat dan efektif ketimbang menunggu momen cuaca ekstrem seperti sengatan El Nino.

c)     Resiko yang ditanggung sangat besar bahkan secara ekonomi bisa sampai 9,1 Milyard US Dollar dan pada tahun 1997 kerugian hampir 10 Milyard US Dollar.

d)     Hutan tidak terbakar maksud beliau menunjukkan bahwa ketika tidak ada gejala alam ekstrem hutan tersebut tidak akan terbakar. Lalu jika hutan tersebut terbakar pastilah ada yang membakar hutan tersebut. Kebakaran saat ini lebih banyak karena faktor manusia daripada faktor alam itu sendiri.

e)     Undang-undang yang memuat tentang lingkungan hidup tersebut sebenarnya sudah efektif untuk mencegah hal tersebut namun dalam penerapannya di lapangan tidaklah efektif karena mungkin masih ada backing dari oknum aparat.

f)      Karena para pelaku maupun pemilik perusahaan yang melakukan land clearing dengan cara membakar hutan justru banyak yang menjadi seorang pejabat pemerintahan yang sangat sulit untuk di sentuh hukum.

g)     Saya rasa tidak efektif gerakan tersebut karena seperti jawaban saya diatas banyak dari pemilik perusahaan tersebut yang melakukan land clearing dengan cara membakar hutan justru menjadi seorang pejabat pemerintahan.

3.      Kasus 3

1)     Ya Mr. Thomas tidak mengindahkan isu tanggung jawab di departemennya terbukti dengan Mr. Thomas menolak untuk menghadiri rapat tersebut karena bagi Thomas yang terpenting dia telah laba maksimum yang diperoleh perusahaan.

2)     Ya dengan kebijakannya yang hanya membayar karyawati wanita 7,5 dollar per jamnya dan acuh dengan kondisi tempat kerja yang tidak bersih dan tidak teratur.

3)     Ya dengan menempatkan staff wanita hanya pada posisi pengganti seperti bagian pengetik ataupun administrasi bukan pada posisi manajemen.

4)     Potensi biaya ada di pada kemungkinan gugatan yang akan diajukan para karyawan pria dan wanita dalam departemennya.

 

4.      Kasus 4

Ø  Dalam kasus tersebut permasalahan etisnya ialah ketika seorang remaja menjadi korban mode maka dia menyampingkan barang yang dia beli tidak perduli asli maupun bukan yang penting apapun yang dia kenakan haruslah branded. Namun permasalahannya ada pada produsen pemalsu brand tersebut dia tidak memikirkan ekuitas merk tapi hanya memikirkan peluang yang tercipta dari fenomena tersebut karena melihat demand dari masyarakat yang ingin tampil modis tanpa harus mengeluarkan kocek lebih.

 

 

Comments